Home / Finalis / Srini Maria

Srini Maria

Srini Maria Margaretha, S.Pol, lahir di Magelang, 18-12- 1960. Sekalipun lahir dari keluarga petani di tengah masyarakat petani di lereng Gunung Merapi, pada masa kecilnya, Srini tak suka bertani. Dia lebih senang melakukan pekerjaan rumah tangga. Lulus kuliah dari Universitas Tidar, Magelang, Srini pun menekuni profesi yang jauh dari aktivitas bercocok tanam. Keluar dari desanya, Desa Sengi, ia mengontrak rumah dan bekerja sebagai guru TK di Kecamatan Muntilan. Ia sempat menjadi guru SMA di Kota Magelang dan menekuni bisnis multilevel marketing (MLM). Setelah dua anaknya berkuliah di Yogyakarta, tahun 2004, dia memutuskan kembali ke kampung halaman.

Di Dusun Gowok Ringin, Srini menggarap lahan pertanian warisan orangtuanya seluas 5.000 meter persegi. Dalam bercocok tanam, Srini sekaligus mencoba-coba memakai pupuk dan obat-obatan kimia dari bisnis MLM yang sebelumnya dia tekuni. Ketika itu, pupuk dan obat-obatan tersebut dia terapkan untuk berbagai jenis sayur, seperti daun seledri, tomat, dan cabai. Panennya berhasil dan ini membuat Srini kemudian memutuskan menekuni bidang pertanian.

Tahun 2010, Srini yang terlibat dalam program pendidikan masyarakat di Gubug Selo Merapi di lereng Gunung Merapi, Kecamatan Dukun, terpilih menjadi salah satu dari puluhan petani yang dikirim Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Jateng untuk melaksanakan empat kali studi banding di perusahaan eksportir sayur di Bandung, Jawa Barat. Dalam kunjungan itulah, dia belajar dan mendapatkan informasi tentang produk sayur yang potensial diekspor, harga jual, serta keuntungan petani dibandingkan jika mereka menjual di pasar lokal. Dia pun berkesempatan melihat berbagai jenis sayur yang ditanam untuk memenuhi kebutuhan ekspor perusahaan tersebut, antara lain french beans (buncis perancis), zucchini (sukini), dan paprika. Sepulang dari kunjungan itu, Srini terinspirasi untuk mengubah pola perilaku menanam sayur warga setempat.”Sebagai sesama perempuan, saya ingin perempuan lebih berdaya, berperan aktif dalam pertanian, tidak sekadar membantu para suami saja,”ujarnya. Semangat Srini turun langsung mendatangi setiap rumah warga ini, menjadi salah satu hal yang mengetuk hati kaum perempuan di dusunnya untuk ikut bergabung dan mengikuti ajakannya. Semangat Srini tak berhenti di Dusun Gowok Ringin, Ibu tiga anak itu pun rajin mencari informasi tentang acara arisan dan berbagai acara pertemuan ibu-ibu di dusun lain. Dia memanfaatkannya sebagai ajang untuk menyampaikan materi tentang ekspor sayur.

Dari upaya tersebut, Srini berhasil mengumpulkan 28 perempuan petani yang mau bergabung dengannya. Juli 2010, kelompok ini resmi bernama Kelompok Wanita Tani (KWT) Merapi Asri. Sebagai langkah awal, dia mencoba mengekspor sayur dari hasil tanamannya sendiri. Dia menanam buncis perancis di area seluas 400 meter persegi. Dari area ini, dia bisa menginisiasi ekspor dengan mengirimkan 25-30 kilogram (kg) buncis perancis ke Singapura lewat perantara petani sekaligus pengepul sayur, Pitoyo, di Kabupaten Semarang.Kegigihan Srini membuahkan hasil, setelah dua bulan sendirian mengekspor buncis perancis, perlahan para anggota KWT Merapi Asri tergerak melakukan hal yang sama.

Seiring perkembangan ekspor tersebut, jumlah anggota KWT Merapi Asri bertambah menjadi 42 orang. Tak hanya dari Dusun Gowok Ringin, anggota KWT juga berasal dari dua dusun tetangga, Dusun Gowok Sabrang dan Dusun Gowok Pos, serta Desa Tlogolele, Boyolali. Luas lahan pertanian buncis perancis milik anggota KWT Merapi Asri mencapai 1 hektar. Srini Maria Margaretha menerapkan metode pola menanam kepada para petani di Magelang, khususnya untuk petani wanita karena ia ingin mereka lebih berdaya & aktif dalam perekonomian keluarga.

Di bawah bimbingan Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura, tahun 2012, KWT Merapi Asri mengekspor sendiri buncis perancis ke Singapura dengan volume pengiriman 90-125 kg per hari lewat perusahaan eksportir. Selain untuk ekspor, KWT Merapi Asri juga tetap menjalin kerja sama dengan pedagang pengepul sayur di Kabupaten Semarang untuk membantu mendistribusikan buncis perancis di pasar lokal.

Check Also

REKA AGNI MAHARANI

Reka Agni Maharani (perempuan, 29 thn) lulusan Universitas Indonesia (UI), bersama sang suami Samsul Asinar …