Home / Finalis / Hermas Rinting Maring

Hermas Rinting Maring

“Terus berpikir, beradaptasi dan bekerja. Jika tidak ditantang, maka tidak ada perubahan.”

Kata-kata bijak dari Hermas Rinting Maring yang siap menghadapi tantangan – dia meminta masyarakat di Kabupaten Kapuas Hulu, 700 km jauhnya dari Pontianak, ibukota Kalimantan Barat, untuk menghentikan praktik-praktik tidak lestari dan mengeksplor alternatif penghidupan lainnya.

Kecintaan Hermas Rintik Maring bagi kampung halamannya dan masyarakat lokal sudah jelas. Hermas bekerja bersama masyarakat lokal di Kapuas Hulu untuk mengembangkan proyek ekowisata dalam rangka mendukung perekonomian lokal dan sekaligus melindungi kawasan alam yang penting ini. Lebih dari 50% dari kabupaten merupakan kawasan lindung termasuk dua taman nasionalnya, yaitu Betung Kerihun dan Danau Sentarum. Lebih dari 90% masyarakat lokal di kawasan tersebut bergantung pada hutan dan sumberdaya alam bagai penghidupan mereka.

“Itu sebabanya saya memilih ekowisata,” kata Hermas, “Ekowisata dapat menjembatan konservasi dan pengembangan ekonomi masyarakat. Melalui ekowisata, masyarakat dapat menghasilkan uang dari hutan di sekitar mereka tanpa perlu menebang pohon atau berburu satwa liar.”

Sebagai orang Dayak dari Kapuas Hulu, Hermas merasa memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan dan melindungi lingkungan dan masyarakat lokal.

“Apa yang saya coba lakukan adalah membawa kembali masyarakat untuk hidup harmonis dengan lingkungan. Saya tahu hidup itu memang tidak mudah, tetapi tidak berarti kita harus merusak segala sesuatu termasuk hutan. Saya selalu mengatakan bahwa urusan Anda hari ini harus menjadi urusan generasi Anda selanjutnya.”

Hermas mulai bekerja di bidang ekowisata sejak 2005 ketika ia memulai mengadvokasinya sebagai salah satu opsi bagi desa dan pemerintah kabupaten. Pada saat yang sama, bersama dengan beberapa rekan kerjanya, dia mendirikan KOMPAKH (Komunitas Masyarakat Peduli Ekowisata Kapuas Hulu), sebuah organisasi lokal yang bertujuan untuk menjalankan bisnis ekowisata melalui masyarakat lokal.

Tanpa pelatihan formal, berbekal keciontaannya pada masyarakat dan kampung halamannya, Hermas mengembangkan ketrampilannya di lapangan, “Saya sampaikan kepada masyarakat bahwa modal bisnis kita adalah hutan, hidupan liar dan budaya otentik kita. Jika kita ingin bisnis terus berlanjut maka kita harus menjaga semua hal itu.”

Ekowisata juga menjaga dan mendukung budaya mereka. Masyarkat akan lebih bangga lagi terhadap hutan, hidupan liar dan budaya yang mereka miliki ketika turis berkunjung dan meminta mereka menunjukkan apa yang ada di tempat mereka.

Mereka juga akan memiliki bisnis kehutanan yang berkelanjutan dibandingkan kegiatan logging yang hanya memberikan keuntungan jangka pendek. Setelah pohon-pohon ditebang, hanya sedikit peluang bisnis yang tersisa bagi mereka di hutan.”

Sehari-harinya Hermas menghabiskan banyak waktunya mengunjungi berbagai desa dan berdiskusi dengan para penduduk desa mengenai opsi-opsi penghidupan alternatif, memberikan pelatihan serta memfasilitasi masyarakat, pemerintah dan agen wisata/perjalanan.

Saat ditanyakan mengenai apa yang menurutnya merupakan bagian yang paling berharga dalam pekerjaannya, Hermas menanggapi, “kebahagiaan, karena saya mencintai pekerjaan ini. Saya memiliki banyak teman di daerah ini, saya mengunjungi banyak tempat dan orang-orangnya tetap mengasihi saya meski saya meminta mereka untuk tidak menebang pohon dan berburu satwa liar – karena saya membawa uang melalui turis-turis yang berkunjung.”

Check Also

REKA AGNI MAHARANI

Reka Agni Maharani (perempuan, 29 thn) lulusan Universitas Indonesia (UI), bersama sang suami Samsul Asinar …