Home / Berbagi Cerita / VIRAGEAWIE (Indonesian Bamboo Community)

VIRAGEAWIE (Indonesian Bamboo Community)

Kelompok Virageawie dibentuk oleh Hafid Fadilah dalam rangka pengembangan industri kreatif di masyarakat dengan memanfaatkan bambu yang berlimpah, untuk meningkatkan nilai ekonomis bambu, menanggulangi permasalahan pengangguran, dan memberikan konsep pemberdayaan dengan berbagai alternatif.

Virageawie muncul ketika Indonesia Bamboo Community (IBC) mengikuti pameran dan ada pengunjung yang mengatakan, “Ah, pira ge awi, hargana meni mahal” (cuma terbuat dari bambu tapi kok harganya mahal). ‘Pira ge awi’ mencerminkan bahwa stigma bambu di masyarakat hanya sebatas produk-produk dengan nilai kelas bawah.

Ungkapan tersebut akhirnya menjadi sebuah brand alat musik modern dari bambu yang kini namanya sudah dikenal hingga mancanegara. Satu gitar bambu bisa dibandrol seharga Rp. 9 juta, bass bambu seharga Rp. 10 juta, biola bambu Rp. 2 juta, dan drum bambu mulai dari Rp. 20 juta.

Jejaring komunitasnya melalui media sosial juga meningkatkan pemasarannya sampai ke Jepang, Malaysia, Philipina, Meksiko, Amerika, dan Eropa. Selain itu, IBC juga menggelar gerakan penanaman bambu yang merupakan tanaman multiguna, yang dapat menahan erosi, memperbaiki kandungan air tanah, juga budidayanya mudah.

Adang Muhidin, master metalurgi asal Jerman, merupakan orang yang memiliki peran besar sebagai motivator dan pendorong usaha kelompok. Adang juga menerapkan ilmunya untuk mengembangkan alat musik dari bambu.

Masyarakat sekitar merasakan manfaat kehadiran kelompok yang memberikan kontribusi berkurangnya pemuda putus sekolah karena dilibatkan di Virageawie. Anggota Karang Taruna yang berkesempatan belajar, mengembangkan, dan mengasah keterampilannya di Virageawie menyampaikan pengalamannya bahwa mereka mendapat kesempatan belajar membuat dan menggunakan alat musik hingga membentuk grup band sendiri (bernama ‘Laskar Bambu’) yang sudah manggung ke berbagai daerah.

Sementara itu, grup band inti pertama bentukan kelompok Virageawie bernama D’Bamboo Essential sudah banyak pentas di berbagai negara. Dukungan Pemerintah kota Cimahi kepada IBC dan Virageawie disambut dengan tekad kelompok tersebut untuk memberikan kontribusi bagi kota Cimahi.

Keberadaan kelompok Virageawie membuat kota/kabupaten lain dan kementerian mengundang kelompok sebagai nara sumber/pelatih untuk mensosialisasikan keberhasilan kegiatan, yang tidak hanya terbatas di wilayah Jawa Barat, tetapi juga provinsi lainnya, antara lain Jatim, Jateng, Jambi, Bengkulu, Kaltim. Mereka juga pernah diundang oleh Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pariwisata. Selain itu tidak sedikit individu atau kelompok lain datang untuk belajar atau magang di Virageawie.

Check Also

BUNGA DAHLIA

Kelompok Bunga Dahlia adalah kelompok petani perempuan permakultur yang berada di Dusun Tangkeban, Desa Merembu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *