Home / Berbagi Cerita / Menjadi Pegiat Muda Pemberdayaan? Siapa takut!

Menjadi Pegiat Muda Pemberdayaan? Siapa takut!

Hari itu, seperti biasanya, Nadiem memanggil tukang ojek untuk mengantarnya menuju kantor menerobos jalanan ibukota. Ini adalah kali kesekian Nadiem memilih jasa ojek sebagai moda transportasinya di Jakarta, ketimbang menggunakan mobil pribadi atau pun taksi. Pasalnya, ia sempat melakukan riset kecil-kecilan dengan membandingkan tingkat keamanan dan keefektifan ojek dibanding alat transportasi lainnya. Hasilnya, hampir pasti dengan menggunakan jasa ojek seseorang akan cepat sampai tujuan dan tingkat kecelakaannya sangat kecil. Dari ‘penelitian isengnya’, Nadiem juga mengambil kesimpulan bahwa tantangan terbesar tukang ojek adalah banyaknya waktu yang terbuang/dihabiskan untuk menunggu penumpang. Sementara itu, di sisi pengguna jasa ojek, orang cenderung malas dan kesulitan menuju pangkalan ojek.

Atas dasar temuannya itu, di tahun 2011 Nadiem merintis usaha berbasis teknologi yang dapat memudahkan orang untuk memesan ojek melalui telpon genggamnya tanpa harus ke pangkalan ojek. Sebaliknya, tukang ojek pun tidak perlu mangkal. Nadiem tidak pernah tahu, lima tahun kemudian usaha rintisannya ini berkembang sangat pesat dan mampu menyerap sampai 10.000 orang menjadi penyedia jasa ojek. Nadiem Makarim, 33 tahun adalah seorang pemuda yang bisa jadi namanya tidak begitu familiar di lingkungan kita. Namun, bagaimana dengan Go-Jek? Ya, aplikasi ponsel yang menghubungkan jasa ojek dengan penggunanya ini hampir pasti menjadi hal yang paling banyak diperbincangkan dan digunakan oleh warga seantero ibukota, bahkan kota-kota besar di Indonesia.

Sampai saat ini, berbagai penghargaan dan apresiasi telah diterima oleh Nadiem sebagai ganjaran atas usaha dan inovasinya. Inisiatif-inisiatif yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, membantu serta memudahkan orang memenuhi kebutuhannya tentu telah banyak dilakukan di berbagai wilayah, dengan berbagai bidang/isu. Tak jarang ide ini muncul dari orang-orang muda sampai menelurkan inisiatif dan hasil yang kreatif, inovatif dan tentunya bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Hanya saja, inisiatif tersebut belum dikenal luas walaupun secara konsisten dilakukan dan dampak positifnya telah dirasakan oleh masyarakat sekitar.

Sebagai lembaga yang berkomitmen dalam mendorong semangat pemberdayaan masyarakat, Bina Swadaya menyelenggarakan penghargaan Trubus Kusala Swadaya 2017. Penghargaan  yang pertama kali digelar pada tahun 2007 ini mengangkat tema “Yang Muda Yang Berkarya”. Tema ini dipilih sebagai wujud komitmen Bina Swadaya dalam mengangkat dan menyebarluaskan semangat pemberdayaan masyarakat khususnya di kalangan orang muda. Ini juga merupakan upaya Bina Swadaya dalam beradaptasi dan berinovasi dengan isu-isu pemberdayaan yang terus berkembang setiap waktu.

Untuk Trubus Kusala 2017, Bina Swadaya telah memilih 8 isu yang menjadi kategori penghargaan meliputi lingkungan, kewirausahaan sosial, kesehatan, pendidikan, pertanian, energi terbarukan, teknologi tepat guna, dan teknologi informasi. Kedelapan kategori ini diharapkan dapat merepresentasikan semangat pemberdayaan yang berkembang saat ini di berbagai pelosok Indonesia. Jadi, apakah kamu atau orang di sekitarmu adalah para pegiat pemberdayaan masyarakat? Jangan ragu daftar!

Check Also

REKA AGNI MAHARANI

Reka Agni Maharani (perempuan, 29 thn) lulusan Universitas Indonesia (UI), bersama sang suami Samsul Asinar …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *