Home / Finalis / Madya Putri Andang

Madya Putri Andang

Drg-Madya-P-AndangPengayom Anak Berkebutuhan Khusus

Oleh: DIAN DEWI PURNAMASARI

NURANINYA tergugah ketika melihat lulusan sekolah luar biasa susah mencari pekerjaan. Terlebih, anak bungsunya pun bersekolah di sekolah anak-anak berkebutuhan khusus. Terbitlah ide untuk merintis kerajinan tangan dari karung goni. Anak-anak yang sulit mendapat pekerjaan juga dirangkulnya.

Begitulah kiprah Madya Putri Andang (51). Di sela-sela kesibukannya sebagai dokter gigi di sebuah klinik di Ciputat, Tangerang Selatan, ia giat mengelola usaha mikro, kecil, dan menengah kerajinan tangan berbahan dasar karung goni. Ibu dua anak itu juga aktif melatih ibu rumah tangga, anak berkebutuhan khusus, dan siapa saja yang ingin belajar membuat kerajinan tangan.

Sejak merintis usaha ini empat tahun silam, kini sekurangnya 25 anak penyandang tunarungu di Jakarta Selatan dan Depok bergabung dengannya. Beragam pola dilakoni anak-anak itu. Ada yang bekerja di rumahnya selama delapan jam sehari. Ada pula yang mengerjakan kerajinan di rumah masing-masing lalu menyetorkannya setelah jadi.

Anak-anak tunarungu yang bekerja di tempat itu pun bisa menyalurkan bakatnya dalam bidang menjahit. Mereka diberi upah Rp 25.000 per hari. Uang sebesar itu sangat bermakna bagi anak binaannya untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, ada salah seorang di antaranya bisa menyisihkan sebagian untuk persiapan biaya kuliah.

”Banyak anak berkebutuhan khusus tidak dibekali keterampilan dalam kurikulum sekolah. Setelah lulus, mereka bingung mau bekerja apa? Apalagi, tak banyak perusahaan mau menerima mereka. Salah satu solusinya adalah belajar berwirausaha,” tutur Madya yang ditemui di rumahnya, di Jalan Tanjung Barat Selatan Kav 16 A Nomor 12 A, Jakarta Selatan, Sabtu (22/11).

Berawal dari hobi

Langkah yang dilakukan sarjana kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, itu berawal dari hobinya merajut. Sejak muda, ia memang gemar belajar merajut secara otodidak. Selain itu, ia sering mengamati produk kreatif kerajinan tangan saat berjalan-jalan di pusat perbelanjaan.

Benda kerajinan yang dilihat itu, setelah tiba dirumah, kemudian berusaha ia tiru kreasi sembari memodifikasi bentuk dan sebagainya. Ide untuk memodifikasi itu biasanya muncul dari majalah yang ia lihat, atau saat berselancar di internet.

Tak urung, garasi mungil di rumahnya pun seperti berubah fungsi. Ruangnya menjadi laboratorium percobaan untuk menciptakan berbagai kreasi.

Di situ ia mencuci, menjemur, dan mengolah karung goni buluk menjadi bahan yang layak untuk memproduksi berbagai kerajinan.

Prosesnya, lembaran karung goni itu dicuci dengan cairan khusus supaya lebih bersih dan steril. Setelah dijemur sampai kering, karung goni itu dirajut menjadi tas jinjing, tas selempang, wadah selampai, penjepit rambut, bros, taplak meja, dompet, dan penutup baju.

Belakangan, pasar menyambut positif barang kreasinya itu. Apalagi, ia juga rajin mengikuti sejumlah pameran yang diselenggarakan Kota Jakarta Selatan ataupun Dinas Perindustrian dan Energi Provinsi DKI Jakarta.

Pemasaran produk itu kemudian menyebar ke sejumlah wilayah di Tanah Air. Setelah sejumlah daerah dijelajahi, produk kreasi ibu dokter ini akhirnya berhasil merambah pasar mancanegara, seperti Jerman, Hongkong, dan Uni Emirat Arab.

Pencapaian itu pula yang mengantarkannya meraih Juara I Produk Unggulan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) Tingkat Nasional tahun 2014. Sebelumnya, ia juga meraih penghargaan Women Entrepreneur dari Yayasan Kuala Swadaya tahun 2013.

Tantangan

Mempekerjakan dan membina anak tunarungu yang belum memiliki keahlian menjahit tentu bukan perkara mudah. Madya harus ikut mempelajari bahasa isyarat. Itu dilakukannya selama tiga bulan agar bisa dipergunakan untuk berkomunikasi. Setelah lancar berkomunikasi, proses transfer ilmu pun berjalan lancar.

Anak-anak itu mampu menyerap materi pelajaran dengan cepat. Bahkan, mereka memiliki cita rasa seni bagus dan acap kali berimprovisasi dalam kreasi.

”Saya kagum kepada mereka yang memiliki cita rasa seni kuat,” ungkap Madya.

Kini, anak didiknya itu bisa melakukan proses produksi sejak awal hingga akhir tanpa panduan. Mereka bisa membuat pola, memotong, menjahit, hingga menyelesaikan berbagai jenis kerajinan tangan.

Madya pun hanya mendampingi anak-anak itu sembari menyodorkan pola kreasi baru yang ada di benaknya. Ia tak keberatan jika suatu saat anak didiknya merintis usaha sendiri di bidang yang sama.

”Enggak masalah kalau mereka mau bikin usaha sendiri. Saya malah bangga bisa menjadi guru yang baik bagi mereka,” kata Madya.

Nasihat orangtua

Inspirasi berbagi terhadap sesama juga ia dapatkan dari nasihat orangtua. Masa kecil Madya dihabiskan di Jember, Jawa Timur. Ayahnya seorang pegawai perkebunan, sementara ibunya bekerja sebagai guru kesenian. Saat akhir pekan, sang ibu kerap mengundang istri kuli pemetik kopi di perkebunan untuk belajar membuat kerajinan tangan. Banyak hal yang diajarkan kepada istri-istri pegawai rendahan itu, seperti membuat kue. Hal ini dilakukan untuk menambah penghasilan keluarga.

”Inilah yang terekam di benak saya. Meskipun jarang membantu, saya perhatikan bagaimana Mama mengajari perempuan-perempuan itu,” ujar Madya.

Salah satu nasihat ibunya yang masih diingat sampai sekarang adalah tentang semangat menuntut ilmu. Nasihat ibunya yang paling diingat, orang lebih baik kaya ilmu daripada kaya harta. Penguasaan terhadap ilmu pengetahuan akan membawa orang pada pencapaian material. Setelah berilmu, ibunya juga mengajarkan untuk berbagi kepada sesama.

”Ilmu yang berguna adalah ilmu yang memberikan manfaat baik kepada sesama. Itu pesannya yang terus saya ingat,” ungkapnya.

Setelah usahanya berjalan, Madya tak melulu berorientasi bisnis. Madya juga mengajar kerajinan tangan bagi ibu-ibu yang menjadi korban kekerasan, narapidana, anak-anak berkebutuhan khusus, dan orang lain dari berbagai kalangan.

Ia juga kerap diundang berbagai kelompok masyarakat untuk berbagi ilmu di sejumlah kota di Indonesia, seperti Medan, Solo, dan Batam.

Saat Kompas berkunjung ke rumahnya hari itu, telepon genggam Madya berkali-kali berdering. Ia menerima telepon dari beberapa rekannya dari luar kota. Telepon itu berasal dari klien pemesan kerajinan tangan hingga pihak yang mengajak bekerja sama.

Bagi Madya, hidup adalah pilihan. Ia merasa semakin bermanfaat ketika bisa berkontribusi terhadap sesama. Sebelumnya, tidak pernah tebersit di pikirannya menjadi seorang wirausaha sosial. Berkat kegigihan dan ketekunannya, hobi berkreasi justru mengantarkan dirinya pada pencapaian saat ini.

Madya pun masih memiliki mimpi. Ia ingin membuat taman khusus yang bisa diakses penyandang disabilitas dari seluruh kalangan.

—————————————————————————

Madya P Andang

♦ Lahir: Jember, 15 Oktober 1963

♦ Anak:

– Raezika Radhina P (24)

– Gilang Kumara (19)

♦ Pendidikan: Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya

♦ Penghargaan:

– Juara I Produk Unggulan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Tingkat Nasional 2014

– Juara I Produk Unggulan DKI Jakarta

– Juara II Produk Kreatif dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) Riau 2012

– Penghargaan Women Entrepreneur Yayasan Kusala Swadaya 2013

 

http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000010767469

Check Also

REKA AGNI MAHARANI

Reka Agni Maharani (perempuan, 29 thn) lulusan Universitas Indonesia (UI), bersama sang suami Samsul Asinar …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *