Home / Berbagi Cerita / Eulis Utami

Eulis Utami

Eulis Utami usia 25 tahun mengelola sampah demi pendidikan anak-anak kampung Ceger, Bogor. Semua pasti sepakat bila setiap anak di Indonesia memiliki hak untuk mendapat pendidikan yang layak, tak terkecuali anak-anak dari keluarga prasejahtera. Meski demikian, tak semua orang berani berjuang demi memfasilitasi pendidikan bagi mereka. Adalah Eulis Utami, salah satu dari sedikit orang yang berani mengambil langkah konkret membantu anak-anak prasejahtera untuk dapat mengenyam pendidikan.

Ia mewujudkan dedikasinya melalui sebuah komunitas bernama Waste Bank for Education Project, atau dikenal dengan sebutan WABE Project. Inisiatif ini diawali tahun 2011 setelah ia berdiskusi dengan dr Gamal yang menjadi inisiator berdirinya klinik asuransi sampah, dimana sang dokter memberikan layanan kesehatan kepada warga dengan dibayar menggunakan sampah. Terinsipirasi kegiatan dr Gamal, Eulis Utami berniat memberdayakan kampung yang tak jauh dari tempat tinggalnya di Bogor dengan kegiatan serupa.

Penjajagan dilakukan di Kampung Ceger yang merupakan daerah padat dan kerap menjadi langganan banjir, serta kondisi warganya yang mayoritas pendidikannya rendah dan belum ada lembaga/instansi manapun yang mengintervensi.

Selain pendekatan kepada tokoh-tokoh dan warga sekitar, Tami -begitu ia biasa disapa- mulai mengajak rekan-rekannya untuk menjadi relawan dalam mengajarkan pengolahan sampah un-organik menjadi barang-barang yang bermanfaat. Di samping itu dia juga mulai mengajak anak-anak untuk belajar bersama, baik tentang pelajaran sekolah maupun membuat kerajinan sampah seperti yang dilakukan para orangtuanya.

Komunitas relawan untuk WABE Project resmi terbentuk tahun 2014 yang berfokus pada pengelolaan sampah untuk memfasilitasi pendidikan anak-anak di kawasan Kampung Ceger, Bogor, Jawa Barat. Program utama yang dimiliki komunitas adalah bank sampah dan pengelolaan sampah menjadi produk bernilai ekonomi, serta pemberdayaan ibu-ibu warga kampung. Tak berhenti sampai di situ, komunitas yang beranggotakan 50 relawan ini juga rajin memberikan pelatihan kepada ibu-ibu cara membuat produk daur ulang sampah bernilai jual tinggi serta edukasi kepada masyarakat sekitar untuk memerangi angka putus sekolah dan penikahan dini.

Tami menjelaskan, tantangan membentuk komunitas terletak pada SDM yang masih belum bisa berkomitmen untuk terus aktif melakukan kegiatan pengolahan sampah dan pemberdayaan ibu-ibu. Tantangan lainnya berasal dari keterbatasan dana. Dampak pada diri dan lingkungan dalam melakukan kegiatan bersama komunitas ini Tami mengaku bahwa dirinya banyak belajar mengenai lingkungan hidup.

Check Also

BUNGA DAHLIA

Kelompok Bunga Dahlia adalah kelompok petani perempuan permakultur yang berada di Dusun Tangkeban, Desa Merembu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *